Apa itu Mantra? Berikut Ulasannya!


Mantra terdapat di dalam kesustraan daerah di seluruh Indonesia. Mantra berhubungan dengan sikap religius manusia. Untuk memohon sesuatu dari Tuhan diperlukan kata-kata pilihan yang berkekuatan gaib, yang oleh penciptanya dipandang mempermudah kontak denga Tuhan. Dengan cara demikian apa yang diminta oleh pengucap mantra itu dapat terkabul.


Karena sifat sakralnya, mantra seringkali tidak boleh diucapkan oleh sembarang orang. Hanya pawang yang berhak dan dianggap pantas mengucapkan mantra itu. Pengucapannya pun harus disertai dengan upacara ritual, misalnya asap dupa, duduk bersila, gerak tengah, ekspresi wajah dan sebagainya. Hanya dengan dan didalam suasana seperti itulah mantra tersebut berkekuatan gaib. Pun pula ada mantra yang harus diucapkan secara keras dan ada juga yang hanya berbisik-bisik. Pawanglah yang mengerti bagaimana mendatangkan kekuatan gaib melalui mantra itu.

Dari uraian di atas nyatalah bahwa sebuah mantra mempunyai kekuatan bukan hanya dari struktur kata-katanya, namun terlebih dari struktur batinnya. Karena sifat mantra yang sakral, mantra tidak mudah dapat ditemukan. Hanya orang-orang tertentu yang dipandang berhak mewarisi kepandaian bermantralah yang dapat memilki dan menggunakan mantra. Mereka yang memiliki dan mampu menggunakan mantra biasanya dikategorikan sebagai “orang tua”.
Jika ada kenduri, maka upacara penyembelihan ayam, upacara pembongkaran nasi tumpeng dan upacara pembongkaran “ingkung” (daging ayam utuh untuk kenduri) juga harus disertai mantra agar niat si penyelenggara kenduri dapat tercapai. Demikian juga dalam upacara permulaan memetik padi; ada “orang tua” yang ditugasi untuk membaca mantra padi agar Dewi Sri turun dan memberikan kemakmuran karena padi yang dituai mempunyai bulir-bulir yang subur.

Hampir di semua daerah di seluruh Indonesia terdapat mantra. Mantra tidak hanya untuk keperluan baik, namun seringkali juga untuk keperluan yang dipandang kurang baik atau tidak baik. Mantra-matra itu misalnya (yang baik): mantra menuai padi, mengusir tikus, mengusir penjahat, meminta hujan, meminta jodoh, dan sebagainya; (yang tidak baik): mantra pengasihan, pemcuri, pemikat dan sebagainya.

Berikur ini diberikan beberapa contoh mantra:

1)   Mantra dari Jawa (klik disini)
2)   Mantra menuai padi dari Minangkabau (klik disini)
3)   Mantra dari Riau (klik disini)
4)   Mantra dari Riau (sambungan) (klik disini)


Dari contoh-contoh mantra tersebut, dapat dirangkum beberapa ciri-ciri pokok dari mantra, yakni
1.      Pemilihan kata sangat saksama
2.      Bunyi-bunyi diusahakan berulang-ulang dengan maksud memperkuat daya sugesti kata3.      Banyak dipergunaka kata-kata yang kurang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan maksud memperkuat daya sugesti dan magis; bunyi tersebut diperkuat oleh irama dan mentrum yang biasanya hanya dipahami secara sempurna oleh pawang ahli yang membaca mantra secara keras.

Dalam contoh di atas diberikan dua mantra dari Riau Karena mantra-mantra Riau ternyata banyak menjiwai puisi-puisi kontemporer karya Sutardji Calzoum Bachri. Tradisi bermantra kiranya cuku[ kuat di daerah tersebut.

Comments